Sunday, February 21, 2010

Ketika Cinta Diikrarkan

Hari Jumat, tanggal 19 Februari 2010, jam 11.45 yang lalu adalah hari yang paling bahagia untuk pasangan Setiawati Dolfina Fransina Laukon (Sintia Laukon) dan Santiago Gastòn Vivas Urrejola (Santiago). Bagaimana tidak, setelah mengenal bersama lebih dari 6 tahun 8 bulan dan kadang diwarnai dengan hubungan jarak jauh Indonesia-Argentina, tidak memupuskan impian kedua sejoli ini untuk menghabiskan hidup mereka dalam sebuah rumah tangga yang harmonis dan diberkati oleh Tuhan YME.

Pada akhirnya cinta mereka berlabuh di gedung Kantor Catatan Sipil Los Polvorines, Malvinas Argentina, Buenos Aires, dan tepat pada pukul 11 siang yang cerah, Tia dan Santi mengucapkan janji nikah di depan hakim dari catatan sipil didampingi oleh para saksi dari masing-masing pihak, pihak Santiago disaksikan oleh teman kami Mirta Lonjedo dan pihak Sintia (Tia) didampingi oleh teman kami Rendy Loudewijk Pangemanan. Disaksikan oleh Bpk. Duta Besar RI Sunten Z. Manurung, Martinus Manurung beserta Bpk. Alamsyah dari Fungsi Protkons KBRI Buenos Aires, resmilah mereka menjadi sepasang suami istri.

Menggunakan gaun biru turquoise dengan balutan brokat dan menggenggam sebuah buket kecil bunga yang indah, Tia melangkah keluar gedung dengan senyuman yang tiada hentinya, mendampingi sang "mantan pacar" tercinta. Di luar gedung sudah menunggu keluarga Santiago dan beberapa sahabat dari KBRI Buenos Aires. Pihak keluarga mulai menyambut keluarnya kami dari kantor catatan sipil dengan menggunakan beras, yang mengartikan kebahagian, keberuntungan, tidak akan pernah kekurangan makanan, dan menuju langkah hidup yang baru dan penuh dengan kebahagiaan. Beras itu disiram ke atas kami, sebagai ganti dari bunga-bunga dan mereka pun menyempatkan diri untuk berfoto bersama dengan pengantin baru.

Setelah seluruh rangkaian proses di catatan sipil berakhir, Tia dan Satiago beserta rombongan keluarga dan sahabat melanjutkan hari yang penuh cinta ini dengan mengadakan Pesta Kebun di Del Viso, kediaman Denisa Montenegro, adik dari Santiago. Pada saat yang sama sekitar pukul 12 siang, teman-teman dan keluarga KBRI lainnya sudah bersiap-siap untuk berangkat bersama ke tempat undangan tersebut. DWP KBRI pun telah menyiapkan satu rangkai bunga besar sebagai tanda turut suka cita atas pernikahan ini.

Perjalanan ini menempuh waktu sekitar satu jam sebelum akhirnya kami menemukan tempat yang dimaksud, dan setelah kami tiba, alangkah indahnya dekorasi rumah tersebut. Halaman belakang yang sangat luas tersebut sudah dipasang tenda yang berwarna gabungan merah dan putih, dilengkapi dengan meja-meja bundar dan di pojok taman sudah siap panggangan asado dengan keharuman yang sangat menggoda.

Acara dibuka dengan sambutan dari pasangan Tia-Santiago, mereka mengucapkan sukur atas pernikahan mereka dan berterima kasih kepada teman-teman, keluarga dan keluarga KBRI yang datang pada hari itu. Sambutan mereka pun dibalas dengan ucapan selamat dari Bapak Sunten Manurung mewakili keluarga KBRI, dan mendoakan agar pasangan Tia-Santiago dapat saling melengkapi dan membina kehidupan rumah tangga yang harmonis.

Selanjutnya dengan diiringi oleh musik latin yang meriah, hidangan makan siang sudah mulai dipersiapkan. Yang pertama menghampiri meja kami adalah empanada dan sandwich, dilanjutkan dengan ensalada, dan sebagai hidangan utama tidak lain adalah variasi daging Asado, yang diklaim oleh sebagian tamu sebagai asado paling enak yang pernah disantap selama di Argentina. Yang menjadi peracik dan pemanggang Asado ini sendiri tidak lain adalah Tio Bigotè Montenegro, paman dari adik ipar Santiago. Makan siang ini semakin sempurna dengan dihidangkannya es krim, kue-kue manis dan torta sebagai hidangan penutup. Sungguh perut kami sangat dimanjakan oleh empunya acara.

Hari sudah mulai sore, sekitar pukul 2.30 acara makan siang yang kadang diselingi dengan dansa latin ini sudah berganti dengan acara foto bersama dan ramah tamah dengan para tamu, dan sekitar pukul 3 sore akhirnya kami harus berpamitan dan kembali ke rumah masing-masing. Tia dan Santiago sekali lagi mengucapkan sangat berbahagia dan berterima kasih atas kedatangan kami. Kami, keluarga besar KBRI Buenos Aires senantiasa mendoakan pernikahan Tia dan Santiago akan langgeng dan bahagia selamanya.







Sunday, February 14, 2010

Menempati Rumah Baru di Savedra

Memiliki sebuah rumah adalah sebuah angan, setiap orang selalu merindukan dapat menempati sebuah rumah yang nyaman, yang dapat dijadikan tempat beristirahat setelah letih beraktifitas di luar dan sebuah tempat dimana kita selalu terpanggil untuk pulang.

Rumah, meski kecil dalam bilangan ukuran bisa dirasakan sangat luas sesuai dengan perasaan suasana hati sang penghuni rumah tersebut. Keinginan untuk dikunjungi oleh teman, sahabat bahkan tetangga menjadikan rumah sebagai tempat yang paling menyenangkan untuk membina hubungan sosial dengan orang-orang di sekitarnya.

Di Buenos Aires, Argentina sebutan rumah lebih diartikan dengan sebuah bangunan tinggi, dibatasi dinding yang terlihat angkuh menjulang bahkan tidak ada peluang untuk melihat siapa penghuni yang berada disamping kiri atau kanan, dan ini dikenal dengan sebutan apartemen. Layaknya sebuah kota metropolitan, kebanyakan penduduk memilih tinggal di apartemen karena berarti lebih dekat ke pusat kota, ke tempat bekerja sehari-hari.

Sebagai perantau yang sudah berada di Buenos Aires lebih dari 10 tahun, Bapak Daryana dan Ibu Dewi sudah merasakan tinggal di apartemen sejak mereka membina rumah tangga, tentu dengan alasan supaya lebih mudah untuk pergi ke KBRI Buenos Aires, tempatnya bekerja.

Berjalannya waktu dan pertumbuhan anak-anak, terasa bahwa kebutuhan untuk tempat tinggal yang lebih luas sangat mendesak, apalagi setiap dua tahun sekali sewa kontrak apartemen akan selalu disesuaikan dengan harga baru. Putra putri mereka, Bunga dan Vito sudah pandai mengeluarkan pendapat dan selalu tercetus bahwa mereka ingin punya ruang gerak yang lebih nyaman dan lebih leluasa.

Pucuk dicinta ulam tiba, demikian peribahasa yang tepat menggambarkan betapa sangat beruntung bahwa Keluarga Bapak Daryana memperoleh sebuah rumah dengan harga terjangkau serta kondisi seperti yang ada dalam angan mereka. Tidak bisa dipungkiri bahwa kedua anak-anak sangat gembira menempati rumah mungil dengan pekarangan cukup luas, dihiasi aneka tanaman dan juga pohon-pohon rindang di sekitarnya. Meski jarak tempuh menjadi lebih jauh, tetapi tidak menjadi kendala karena banyak transportasi umum yang bisa diandalkan.

Baru saja beberapa hari menempati rumah baru, Ibu Dewi Dana berkenan menerima Ibu Herawaty Manurung yang datang berkunjung bersama dengan Ibu Dewi Johni, Ibu Desih, Ibu Partini dan Ibu Sularsih pada hari Kamis tanggal 21 Januari 2010 yang lalu.

Secara resmi, untuk menyatakan rasa syukur menempati sebuah tempat tinggal yang baru, keluarga Bapak Daryana mengundang seluruh anggota keluarga besar KBRI Buenos Aires menikmati hidangan makan siang pada hari Sabtu tanggal 13 Februari 2010, sekaligus merayakan hari ulang tahun Vito yang ke-5.

Sungguh suatu peristiwa yang patut dirayakan dengan ungkapan rasa syukur atas segala nikmat yang diperoleh dari-Nya dan dengan harapan serta doa semoga keluarga yang menempati rumah beralamat di Galvan 4023, Savedra, Capital Federal Buenos Aires ini selalu sehat dalam lindungan-Nya.









Sunday, February 07, 2010

Ubi, Manfaatnya Tak Banyak Terungkap

Saat membeli gorengan sore hari, ubi bukan termasuk favorit. Dalam menu kolak yang kita buat saat bulan Ramadhan pun, ubi jarang ditemukan.

Orang hanya memandang ubi sebagai sumber karbohidrat, yang sering disalahkan sebagai penyebab obesitas, bahkan diabetes (bila dikonsumsi berlebihan). Kesalahan informasi sering menempatkan ubi dalam kategori yang sama dengan nasi (jenis pangan yang kurang bergizi), padahal tidak semuanya benar. Ubi memiliki banyak manfaat yang belum diketahui orang.


Ada beberapa jenis ubi (sering juga disebut sebagai ketela), namun biasanya kita mengetahui dua macam: ubi yang lebih kering dengan kulit berwarna coklat dan buah kekuningan, atau ubi yang lebih manis dengan kulit berwarna ungu dan buah yang berwarna oranye. Manfaat yang bisa Anda peroleh dari ubi antara lain:

1. Salah satu sumber terbaik vitamin A
Ubi digelari sebagai makanan super oleh Center for Science in the Public Interest berkat kandungan nutrisinya. Sebutir ubi ukuran sedang menyediakan lebih dari 200 persen kebutuhan harian akan vitamin A. Vitamin ini muncul dalam bentuk beta karoten, yang memberikan warna kuning oranye pada ubi.

Vitamin A sendiri memberi manfaat untuk penglihatan, kulit, dan tulang. Ubi juga berfungsi sebagai antioksidan, membantu mencegah infeksi dalam pencernaan, saluran kencing, dan paru-paru. Dalam sebuah studi yang digelar oleh Kansas State University pada tahun 2003, dan dipublikasikan di The American Society for Nutritional Sciences, ditemukan hubungan antara kekurangan vitamin A dan emphysema (infeksi paru-paru yang menyebabkan kesulitan bernafas).

2. Vitamin dan mineral lain
Ubi juga merupakan sumber terbaik vitamin C (sepotong ubi memenuhi 66 persen kebutuhan vitamin C dalam sehari), tembaga, vitamin B6, zat besi, kalsium, potasium, dan mangaan. Ubi juga kaya serat. Menurut The U.S. Sweet Potato Council Inc., ubi masak yang dimakan beserta kulitnya menyediakan lebih banyak serat daripada seporsi oatmeal.

3. Mudah dicerna
Kandungan patinya yang tinggi membuatnya kurang bekerja untuk sistem pencernaan, yang menghilangkan penyebab sakit perut. Seratnya yang tinggi mampu mencegah sembelit (dan penyebab penyakit perut lainnya). Sedangkan vitamin A, B, C, kalsium, dan potasiumnya membantu meringankan radang perut, dan masalah sejenis karena manfaat antiperadangannya.

4. Karbohidrat alternatif untuk yang sedang berdiet
Ubi berukuran sedang yang tidak dimasak mengandung 112 kalori, bebas lemak dan bebas kolesterol, serta rendah sodium. Kandungan ini tentu akan berubah, tergantung cara Anda memasaknya. Mengukus atau merebus ubi akan memunculkan rasa manisnya yang alami, namun dengan sedikit kalori.

Ubi memiliki kadar Glycemic Index (GI) yang rendah, khususnya bila dibandingkan dengan roti putih atau nasi. Skala GI akan menilai makanan berdasarkan berapa banyak dan seberapa cepat makanan tersebut meningkatkan kadar glukosa dalam darah.

Karena pengaruhnya terhadap gula darah relatif kecil, ubi juga menjadi pilihan yang baik untuk pengidap diabetes yang butuh karbo, namun yang tidak mempengaruhi kadar insulin. Studi yang digelar oleh University of Vienna, Austria, pada tahun 2003, membuktikan bahwa pengidap diabetes melitus tipe II yang mengonsumsi ubi dosis tinggi menunjukkan penurunan terbesar resistensi insulin tanpa perbedaan dalam berat badan, atau faktor lain yang mungkin akan mempengaruhi.

5. Bisa diolah dengan cara apa saja
Anda mungkin hanya mengenal ubi dalam bentuk ubi goreng (dengan tepung), dan kolak. Padahal, ubi bisa diolah dengan cara apa saja. Cobalah lebih kreatif saat mengolah bahan makanan yang kerap menjadi menu Thanksgiving ini. Anda juga bisa browsing resep-resep baru dari internet.

Sumber : KOMPAS.com