Friday, February 13, 2009

Ternyata Gamelan tetap dicinta

Sudah satu tahun berlalu sejak kegiatan latihan bermain gamelan menjadi acara rutin mengisi libur musim panas di Buenos Aires. Melihat seperangkat gamelan tertumpuk di sudut ruang lantai 3 KBRI Buenos Aires, muncul rasa sedih yang sulit diutarakan dengan kata. Ada kerinduan untuk mendengar alunan yang lembut yang ternyata memang bisa menjadi hiburan dan obat kangen kepada tanah air yang jauh.

Perasaan ini ternyata ada pada para pemain yang pernah merasakan indahnya paduan musik ini kalau dimainkan dengan benar. Sejak Pelatih Gamelan Bapak Suhardjono dan Pelatih Tari Bapak Bambang yang dikirim Diknas untuk melatih Tari dan Gamelan di KBRI Buenos Aires pulang ke tanah air, tidak ada lagi kegiatan kesenian yang bisa dilakukan. Kehadiran selama tiga bulan memang terasa singkat, namun "gema" yang ditinggalkan ternyata tetap ada dalam kenangan.


Ibu Erna Herlina berminat menggerakkan atau merealisasikan kerinduan yang dimiliki para pemain. Awalnya memang agak ragu, mengingat sebagian pemain sudah pulang ke Jakarta, yaitu Ibu Wati dan dua putrinya, Gina dan Icha. Tetapi seperti pepatah mengatakan "patah tumbuh hilang berganti", ada Ibu Dewi Jhoni dan dua putranya, Billy dan Rully. Ditambah lagi dengan Astrid, putri Ibu Joefi dan ibu Sri Lestari, ibunda Ibu Joefi, maka para pemain gamelan sudah cukup lengkap. Kris dan Desih tetap berminat, demikian juga Ibu Dewi Dhana dan Pak Dhana, senang bisa tetap melatih ketrampilan memainkan nada-nada yang nyaman di telinga.

Martinus Manurung satu-satunya yang diharapkan bisa membantu atau mengingatkan semua lagu-lagu yang pernah dipelajari. Ternyata pelajaran yang pernah diterima dari Bapak Suhardjono masih terekam dengan baik dalam ingatan, cuma saja memang perlu dilatih agar tidak lupa. Untuk tujuan itu Ibu Herawaty Manurung sebagai Ketua Dharma Wanita sangat mendukung program pelatihan gamelan yang diprakarsai oleh Ibu Erna Herlina sebagai Fungsi Penerangan di KBRI Buenos Aires.

Sekarang latihan sudah berlangsung setiap hari Jumat sore dimulai jam 18.00 dan diharapkan tetap bersemangat memainkan alat musik tradisional Indonesia yang menjadi ciri negara kita karena memang tidak ada di negara lain. Jangan lupa, di berbagai belahan dunia, gamelan milik bangsa Indonesia sering menjadi pengharum nama bangsa.




Thursday, February 12, 2009

Sepatu Hak Tinggi

Siapa bilang TELANJANG KAKI itu tidak sehat!!!



Pilih Sehat atau Sakit

Kaki berfungsi sebagai organ penyangga tubuh, pengatur keseimbangan dan untuk mobilitas. Seringkali tanpa disadari, kita telah menuntut kaki untuk selalu dapat melakukan fungsinya tanpa adanya perawatan yang cukup. Tahukah anda, bahwa di telapak kaki terdapat lebih banyak urat saraf, dibandingkan dengan di wajah? Ribuan urat saraf dan sensor terdapat pada telapak kaki, sehingga butiran kecil pasir pun dapat kita rasakan, kalau sekiranya ini masuk kedalam sepatu yang sedang kita pakai.



Hampir 30 tulang, 30 sambungan(joint), 60 otot, lebih dari 100 ikatan dan lebih dari 200 jaringan terdapat pada telapak kaki. Ini merupakan konstruksi yang sangat komplek, yang membuat kaki menjadi suatu sistem yang teramat istimewa.




Telapak kaki dan cekungannya (arch)
Telapak kaki dibagi menjadi tiga bagian, telapak kaki bagian depan, tengah dan belakang. Hal yang istimewa pada telapak kaki adalah susunan tulangnya, sehingga terbentuk cekungan pada telapak kaki. Cekungan ini penting, sehingga berat tubuh dapat terbagi secara optimal dan juga agar benturan ketika melakukan aktifitas dapat diredam dengan baik.

Telapak kaki memiliki tiga buah cekungan, dua arah yang memanjang dan satu arah menyamping.



Pada gambar di atas terlihat, yaitu cekungan pada bagian dalam (arah yang memanjang), bagian luar (arah yang memanjang) dan bagian depan (arah menyamping). Jika pada cekungan ini terjadi penurunan, yang disebabkan oleh melemahnya otot, maka keseimbangan telapak kaki akan terganggu, sehingga dapat menyebabkan tekanan yang berlebihan, perubahan posisi (deformasi), yang akhirnya dapat menimbulkan rasa sakit.

Istilah deformasi (perubahan) telapak kaki dalam dunia kedokteran
-Pes transversus (spreadfoot)

jika terjadi penurunan pada cekungan depan

-Pes valgo (splayfoot)

jika terjadi penurunan pada cekungan dalam

-Pes planus (flatfoot)

jika terjadi penurunan pada cekungan dalam dan cekungan luar


Perbandingan telapak kaki normal dan telapak kaki rata (flatfoot)


gambar atas normal
gambar bawah rata (flatfoot)

Pada telapak kaki normal, terdapat cekungan, sehingga kaki tidak sepenuhnya menyentuh permukaan yang dipijak. Bentuk ini seperti yang telah dijelaskan diatas, menyebabkan gerakan kaki lebih elastis dan lebih seimbang. Bentuk telapak kaki ini akan berpengaruh terhadap struktur kaki.


kiri = kaki normal
tengah= kaki bentuk X
kanan= kaki bentuk O

Penyebab
Bentuk-bentuk deformasi telapak kaki ini disebabkan oleh banyak hal, antara lain kelebihan berat badan, genetik (pada flatfoot), aktifitas yang menyebabkan harus berdiri untuk jangka waktu yang lama, permukaan lantai yang tidak rata, lantai yang keras dan penyebab utama adalah pemilihan sepatu yang salah.

Sepatu
Sepatu yang pada mulanya merupakan penemuan yang bagus untuk melindungi kaki, lama kelamaan di abad moderen ini, dapat berakibat negatif.

- Alas sepatu yang keras
Pada telapak kaki tedapat jaringan lemak (plantar) yang fungsinya untuk meredam tekanan ketika kita berjalan atau berlari. Lemak ini terdapat dalam sebuah kamar khusus yang tertutup, sehingga ia tidak dapat keluar. Ketika kita berjalan tekanan berat badan akan dibagi secara rata dan harmonis oleh jaringan lemak ini, seperti ombak yang menggulung (berputar) dari bagian depan hingga belakang. Gerakan yang demikian fleksibel akan terhalang jika kita mengenakan sepatu. Akibatnya karena sering tidak terpakai otot dan jaringan penyambung akan melemah, sehingga terjadi penurunan terhadap cekungan.

- Sepatu terlalu sempit
Kerusakan pada telapak kaki ini dimulai dari usia yang dini, terutama pada anak-anak. Anak sekolah di Jerman, 2/3 nya mempunyai problem dengan kaki yang diakibatkan salah pemilihan sepatu. Lebih dari 80% anak sekolah tersebut memakai sepatu yang ukurannya lebih kecil dari ukuran yang seharusnya. Pada MASA PERTUMBUHAN ini penting diusahakan agar telapak kaki MASIH memiliki ruang untuk tumbuh!

-Mode sepatu yang tidak sehat, High Heels



Sepatu wanita yang berhak tinggi sangat tidak baik untuk kesehatan. Bentuk sepatu yang demikian akan menyebabkan pemindahan tumpuan berat badan ke arah depan. Akibatnya otot betis akan memendek, juga perdaran darah di paha akan menjadi jelek.Selain itu kerangka telapak kaki akan berubah permanen (mengalami deformasi), sehingga dapat menyebabkan perubahan cekungan telapak kaki.

Penyakit yang umumnya diderita wanita yang gemar mengenakan sepatu dengan hak tinggi dikenal dengan nama Hallux valgus. Hallux Valgus merupakan perubahan struktur telapak kaki, dimana tulang ibu jari kaki menyimpang ke arah luar. Ini menyebabkan infeksi dan untuk penyembuhannya harus dioperasi.







Selain itu penggunaan sepatu berhak tinggi, menyebabkan tekanan di sumsum tulang belakang bagian tengah (lumbar spine) menjadi besar, sehingga dapat juga menyebabkan sakit pinggang.


Tip membeli sepatu
  • Belilah sepatu hanya pada jedah waktu siang sampai sore hari, karena di waktu itu kaki akan mengembang ke bentuknya yang normal.
  • Carilah sepatu yang alasnya tidak terlalu keras (usahakan yang fleksibel) dan bahannya terbuat dari kulit sehingga dapat terjadi sirkulasi udara.
  • Ada kemungkinan dengan bertambahnya usia anda harus membeli sepatu dengan ukuran yang lebih besar, karena jaringan tubuh tidak kencang lagi seperti di usia muda, sehingga telapak kaki menjadi lebih besar.
Marilah bertelanjang kaki!!
  • Untuk menghindari efek negatif dari sepatu, maka usahakanlah SESERING mungkin anda berjalan telanjang kaki (tentunya ditempat yang aman).
  • Dengan bertelanjang kaki otot, sensor dan urat saraf akan dilatih, sehingga cekungan-cekungan yang sangat penting pada telapak kaki dapat diperkuat dan pada anak-anak akan terbentuk.
  • Keuntungan yang lain, rangsangan temperatur, baik panas maupun dingin pada telapak kaki akan memperkuat imun sistim (daya tahan tubuh).
Ironi
Dunia yang sudah terbalik, di negara maju seperti Jerman orang ramai bertelanjang kaki, tentunya dengan alasan yang tepat. Di Indonesia telanjang kaki masih identik dengan kemiskinan!





Kadang kita perlu berpikir, ukuran kemajuan bukanlah apa yang HARUS dipakai, tetapi KENAPA tidak HARUS dipakai!!



Poster tentang bahaya High Heels




Sumber: diolah dari beberapa milis dan situs.

Tuesday, February 10, 2009

Pertemuan Anggota dan Arisan Februari 2009

Dharma Wanita Persatuan
KBRI Buenos Aires - Argentina
UNDANGAN
Nomor : UND. 02/DWP KBRI BS AS/II/2009


Dengan ini kami mengundang Bapak/Ibu/Saudara/Saudari untuk menghadiri Pertemuan Anggota dan Arisan yang akan diselenggarakan pada:

Hari:Kamis, 12 Februari 2009
Tempat:Ruang Serba Guna KBRI Buenos Aires Lt. III
Jl. Mariscal Ramon Castilla 2901, Buenos Aires
Waktu:Jam 13.00 Bs.As, - selesai
Hari:- Pertemuan Bulanan
- Arisan



Catatan:Untuk yang ikut Arisan diharapkan tidak lupa membawa uang Arisan dan jika berhalangan hadir mohon uang Arisan tersebut agar dapat dititipkan.

Atas perhatian Bapak / Ibu / Saudara / Saudari kami mengucapkan terima kasih.


Buenos Aires, 10 Februari 2009


Ny. Herawaty S. Manurung
Ketua

Selamat Datang untuk Keluarga Bapak Bindu Marbun dan Selamat Jalan untuk Sdr. Faisal Rachman

Suasana di Wisma Duta pada sore hari Jumat tanggal 30 Januari 2009 yang lalu cukup meriah, menyambut gembira kedatangan Bapak Bindu Marbun beserta istri yang telah tiba beberapa hari yang lalu di Buenos Aires.

Acara dibuka oleh Pembawa Acara, Bapak Alamsyah yang memberi kesempatan pertama kepada Bapak Bindu Marbun untuk menyampaikan sepatah dua kata.

Bapak Bindu Marbun sebagai Fungsi Politik di KBRI Buenos Aires memperkenalkan diri didampingi istri yang dengan setia selalu bersama-sama di berbagai negara pada penempatan atau penugasan-penugasan yang sudah dijalankan di berbagai benua.
Beliau memiliki tiga orang putra yang sudah dewasa dan sudah bekerja di tanah air, sehingga saat ini hanya datang berdua dengan istri.

Sebagai anggota yang baru bergabung menjadi bagian dari Keluarga Besar KBRI Buenos Aires, harapan beliau adalah dapat bekerja sama sebaik-baiknya serta membina hubungan kerja yang harmonis dengan seluruh warga masyarakat Indonesia demi tercapainya tujuan atau misi dari penugasan di negara yang jauh di selatan ini.

Beliau yakin dan percaya bahwa berkumpul bersama dengan sesama Warga Negara Indonesia di Argentina adalah karena memang sudah diatur oleh kehendak-Nya, sehingga dengan demikian semua pekerjaan yang akan dilakukan diharapkan dapat saling membantu dan dilandasi dengan saling pengertian sebagai orang yang sama-sama berada jauh di perantauan.

Pembawa Acara kemudian memberi kesempatan kepada Sdr. Faisal Rachman yang akan pulang ke tanah air untuk menyampaikan kata-kata perpisahannya.

Dengan mengucap syukur atas rahmat-Nya Sdr. Faisal Rachman menyatakan rasa gembira sekaligus rasa bangga bahwa sebagai Diplomat Yunior yang magang di KBRI Buenos Aires, mendapat kesempatan untuk ikut bergabung mengikuti pendidikan para calon diplomat di Argentina. Ini adalah kesempatan langka yang sangat bermanfaat yang menambah wawasan dan pengetahuan tentang negara ini.

Selama bergabung menjadi bagian dari Keluarga Besar KBRI Buenos Aires sejak bulan November 2008 yang lalu, cukup banyak hal yang bisa dipelajari bersama-sama dengan rekan-rekan sejawat yang dirasakan sangat membantunya.


Bapak Duta Besar Sunten Z Manurung sebagai pembicara terakhir, menyampaikan selamat datang untuk Bapak Bindu Marbun dan istri, selamat bergabung memperkuat jajaran KBRI Buenos Aires dalam melaksanakan misi penugasan di luar negeri disertai harapan semoga kita semua tetap dalam lindungan-Nya.

Kemudian kepada Sdr. Faisal Rachman, disampaikan ucapan selamat jalan pulang ke tanah air, berkarya di Deplu sambil menunggu kesempatan untuk kelak mendapat tugas bekerja di perwakilan di luar negeri, juga disertai harapan untuk mencapai sukses di masa mendatang. Meski hanya sebentar, yaitu sekitar tiga bulan berada dalam lingkup kerja di KBRI Buenos Aires, semoga dapat diambil manfaatnya dari berbagai situasi yang dihadapi.


Melengkapi serangkaian acara-acara sambutan, pembawa acara akhirnya mempersilakan semua yang hadir untuk menikmati hidangan makan malam yang sudah disediakan oleh Ibu Herawaty Manurung.


Seperti sudah menjadi satu rangkaian yang tidak terpisahkan, tidak lengkap seandainya makan malam tanpa musik. Selain berdendang dengan karaoke, pemain piano andalan KBRI Buenos Aires yaitu Bapak Johny Kabul dengan senang hati mengiringi para penyanyi yang berminat menyumbangkan suara untuk membuat suasana makan malam menjadi lebih meriah.

Datang dan Pergi, memang sudah menjadi bagian dari sejarah perjalanan kehidupan setiap orang, dan itu semua ada dalam berbagai judul lagu yang disenandungkan dalam acara Perkenalan dan Perpisahan.

Wednesday, February 04, 2009

Pertemuan Para Misionaris Indonesia di Argentina

Padre Amans Laka S.V.D. menjadi tokoh sentral dalam pertemuan yang diadakan pada ahir bulan Januari 2009 yang baru lalu. Sebagai tuan rumah penyelenggara beliau mengundang para misionaris berkumpul di Parroquia San Nicolas de Flue, Puerto Esperanza, Misiones untuk mengadakan pertemuan yang intinya adalah mengadakan evaluasi selama bertugas di Argentina, berbagi pengalaman dan juga saling bertukar informasi serta mendapat kuliah-kuliah penyegaran dari pimpinan gereja di Argentina.

Sebagai negara yang mayoritas rakyat beragama Katolik, ternyata di Argentina ada sekitar 30 orang biarawan dan biarawati Indonesia yang mendapat tugas langsung dari Vatican untuk bekerja di Argentina. Mereka tersebar di pelosok, di daerah-daerah terpencil, di pedalaman, berkarya di tengah-tengah rakyat yang memang sangat membutuhkan bimbingan dari para rohaniawan/wati. Para Misionaris Indonesia ini sangat fasih berbahasa spanyol, mereka sudah berada di Argentina sekitar 5 sampai 15 tahun sehingga mereka sudah menyatu dengan kehidupan masyarakat di sekitarnya.

Pertemuan yang dirancang dua tahun sekali ini berlangsung sungguh hangat, mencerminkan keutuhan dan kesatuan layaknya reuni dalam suatu keluarga besar yang sudah lama tidak bertemu.

Duta Besar SZ Manurung beserta Staf KBRI Buenos Aires diundang untuk menghadiri Pertemuan para Misionaris ini. Seperti kata pepatah sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui, maka kehadiran Duta Besar SZ Manurung sekaligus bersama dengan Tim Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN) yang memang harus memberikan penyuluhan/sosialisasi bagi Warga Negara Indonesia untuk menggunakan hak pilihnya pada Pemilu bulan April 2009 yang akan datang.

Tim PPLN yaitu Bpk. Tatang Sukroni, Bpk. Alamsyah, Ibu Erna Herlina, Sdr. Rudi Henryadi dan Sdr. Faisal meluncur menuju Misiones dengan menggunakan Bus Tingkat, kendaraan antar propinsi. Jarak tempuh sekitar 1500 km dari Buenos Aires atau 18 jam perjalanan menuju kota Puerto Esperanza punya kisah sendiri yang menarik untuk diketahui.

Program yang disusun sangat memperhatikan dan mengakomodasi semua peserta yang hadir. Di antara jadwal yang padat mengenai materi yang berhubungan dengan tugas-tugas pastoral, diselipkan juga kesempatan untuk rekreasi.

Hari Sabtu tanggal 24 Januari 2009 acara rekreasi ke Iguazu dimulai dari pagi hari dan hampir 40 orang ikut dalam rekreasi ini, untuk melihat keindahan air terjun yang sudah terkenal ke seluruh dunia.

Iguazu dalam bahasa Guarani artinya "Air Yang Besar", sungguh membuat takjub dan terpesona atas ciptaan-Nya yang maha dahsyat. Iguazu membentang sekitar 2,5 km dan ada sekitar 275 jeram yang membentang di perbatasan selatan Brazil, di bagian timur Paraguay dan Propinsi Misiones, Argentina, dikenal dengan sebutan "Tres Fronteiras" yaitu tiga perbatasan.

Udara panas terik tidak mengurangi semangat untuk berjalan kaki mengelilingi indahnya panorama dari berbagai sudut pandang. Taman Nasional atau cagar alam yang dilindungi atau dilestarikan merupakan kebesaran ciptaan Yang Maha Kuasa yang dikagumi oleh pengunjung dari seantero dunia.

Bapak Duta Besar SZ Manurung sangat tertarik untuk mencoba naik perahu mendekati air terjun yang memang membutuhkan keberanian dan tentu saja menjadi basah kuyup. Bersama Padre Laurencius dengan penuh kesabaran antri untuk mendapat giliran dan kenangan naik perahu di Iguazu akan menjadi pengalaman indah yang tidak terlupakan.

Menyaksikan salah satu keajaiban alam semakin mendekatkan diri kita dengan Sang Pencipta dan akan selalu mengingatkan betapa kita sangat kecil dan tidak berdaya dihadapan-Nya.

Foto-foto kegiatan