Monday, April 23, 2007

DUKA CITA

Kami segenap Pengurus dan Anggota DWP KBRI Buenos Aires
turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas wafatnya Bapak
ARVIL TAMALA (kakak kandung sdr. Alamsyah, Sekretaris-I
Protkons KBRI Buenos aires), pada tanggal 21 april 2007 di Jakarta.

Kami berdoa semoga almarhum Bpk. Arvil Tamala diampuni dosanya
dan diberikan tempat yang layak di sisi Tuhan Y.M.E dan kepada
keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan bathin dalam menerima
cobaan yang berat ini.

amin.-

gardenia01.gif



Sunday, April 22, 2007

Perpisahan Kel Bpk. Rahmadi Utomo dengan Masyarakat Indonesia


Tiba saatnya kita harus berpisah...
Kita berpisah untuk jumpa lagi...
Hilangkan rasa sedih di hati...
hapuskan airmata...
senanglah hati kawan pasti jumpa lagi....

Itulah sebait lagu dan ucapan kata perpisahan yang sering kita dengar kata demi katanya, Penyair lagupun menuliskan ... berpisah bukan berarti kita tak akan bertemu lagi, tapi suatu saat nanti pasti kita di pertemukan lagi, mungkin di Indonesia atau somewhere.


Penulis tidak akan menulis terlalu banyak, tapi tampilan foto-foto yang sempat di jepret tentunya akan mewakilinya.










Bpk. Duta Besar Sunten Z. Manurung memberikan kenang-kenangan untuk Bpk Rahmadi Utomo.
Masyarakat Indonesia ikut hadir pada malam perpisahan.











hiburan musik latin pun ikut memeriahkan acara perpisahan ini.
Musik karouke dapat menghibur para pasangan untuk berdansa.

Kunjungan Bpk Duta Besar ke Sekolah Republika Indonesia

Pada tgl 20 April tepatnya Jam 10.30 pagi, Bpk Duta Besar Sunten Z. Manurung beserta Istri, didampingi beberapa Staf, ibu-ibu DWP dan Rombongan Group penari Saman pergi mengunjungi Sekolah Republika Indonesia Primaria (SD) dan Secundaria (SMP dan SMU) yang berada di Buenos Aires.

Guyuran hujan pagi itu tidak membuat kami patah semangat untuk mengunjungi sekolah tersebut, sambutan yang ramah dari guru-guru yang menyambut kami jadi terasa begitu hangat serasa berada di lingkungan keluarga sendiri. ucapan kata Bienvenidos/Selamat Datang menambah keakraban diantara kami.











Bpk dan Ibu Sunten Manurung mengunjungi kelas Primaria/SD dan salah satu murid memberikan ucapan terimakasih kepada Bpk Duta Besar dengan kunjungannya.










Bpk Duta besar memberikan kenang-kenangan berupa wayang golek Rama.
Anak-anak penari Saman menari di depan anak-anak Primaria/SD, Republika Indonesia.










Bpk Duta Besar memberikan sumbangan seperangkat alat musik Angklung.
Musik angklung dimainkan oleh anak-anak Secundaria dengan menyanyikan lagu Es Lilin.










Bpk Duta Besar dan Ibu memberikan kenang-kenangan wayang golek Dewi Sinta untuk sekolah Secundaria/SMP, SMU.
Anak-anak penari saman juga menghibur anak-anak sekolah SMP dan SMU

Kunjungan Kami disambut sangat baik oleh mereka dan musik Angklung menjadi perekat silaturahmi diantara KBRI dan Sekolah Republika Indonesia yang berada di Buenos Aires.

Saturday, April 21, 2007

Puisi " Kala Angka Harus Menjadi Ukuran"

(untuk Pak Rahmadi Utomo)

Aku terhenyak setengah bersimpuh
larut dalam nuansa irama pagi begitu hening
letihku lantunkan dalam nafas sedikit menggemuruh
waktu kumengerti telaga hidup sang pencipta senantiasa bening

Seraya mulai kumaklumi dunia fana
terus memaksaku untuk menjadi terbiasa
bergelut dan bergelimang dalam fatamorgana
wujudkan niscaya terbalut dalam bilangan angka

Sepuluh, seratus atau mungkin seribu
adalah jumlah yang lumrah bagi setiap tetes keringatku
atau bentang laut tak berujung membiru
tidak pernah berhenti disitu

Calvin Klein, Christian Dior, Pierre Cardin, Mount Blanc
rapih berjajar tersusun diam dalam lemari
American Grill, tepanyaki, Cesar Salad, terriyaki,
penghuni perut yang semakin wajar hilang rasa

Sekali, dua kali, bahkan mungkin puluhan kali
sempat kunikmati kilau anggun kepak sayap burung besi
desing halus mesin dan senyum menawan pramugari
ketika di tempat lain beratus orang berhimpit di gerbong kereta api

Kala angka harus menjadi ukuran
dan setiap fakta adalah bilangan
membuatku terperangkap dalam lingkaran
menunggu, mencari, berlari semata mengejar setiap hitungan

Seminggu, sebulan, tidak jarang bertahun
ranting pohon halamanku patah berganti tunas muda
bersama tujuh warna di lengkung bianglala
yang menyambutku dalam riang kadang juga nestapa

Garis lurus ribuan kilometer bentang jarak
menautkan setiap kota yang pernah kupijak
hiruk pikuk Mexico, suramnya Cuba, bahkan angkuhnya Argentina
tak kuasa kurengkuh dalam genggam sebelah telapak

Atau ketika malam dan pagi hampir tak berbeda bagi rekan sejawat
menyusun angka dari mesin hitung yang semakin keras mendengung
dalam timbunan berkas bagaikan gunung
aku hanyalah manusia biasa

Namun kerap kali aku termangu
waktu sekelumit tanya hadir dalam kalbu
berapa jauh rasa sayang dan kasihMU
tiada kuasa sebuah jawabpun tersedia

Ya Allahu Rabbi penguasa langit dan bumi
telah banyak langkah hingga ku disini
bisikan kini tentang cara Mu yang selalu terpuji
agar lapang hati sanubari, setiap kuterima rahmat Mu ya Illahi

Biarkan raguku tiada sanggup yakinku dalam tawakal
diujung penilaian hasil akhir segenap daya akal
indah nian sebuah pesona
diantara sekian lagi yang masih tersembunyi

Dan lidahku kini tak pernah kelu
untuk tetap dan terus menyeru
syair puji syukur dari dunia yang harus kuraba
tentang begitu banyak manis dan nikmat karunia Nya

Tanpa harus kuhitung....


April 2007

dari . Bpk Alamsyah

Av. Libertador 2349

hibiscus02.gif

"OPERA JAWA" di ARGENTINA

Mendapat Sambutan Hangat Publik

Tepuk tangan gemuruh mewarnai Bioskop Atlas yang terletak di kawasan pusat perdagangan Santa Fe di Buenos Aires, Argentina, ketika film Opera Jawa usai dipertunjukkan.

Bidang Penerangan Sosial dan Budaya Kedutaan Besar RI di Buenos Aires menjelaskan, Minggu (15/4), film drama musikal karya sutradara terkenal Indonesia Garin Nugroho ini merupakan salah satu peserta Festival Film Independen Internasional Buenos Aires Ke-9 yang berlangsung 3-15 April 2007. Diilhami oleh epos Ramayana, film ini dibintangi sejumlah seniman kawakan Indonesia, seperti Retno Maruti, Martinus Miroto, Eko Supriyanto, dan Putri Indonesia tahun 2004 Artika Sari Devi.

Keikutsertaan Opera Jawa dalam Festival Film Independen Internasional ini bukan dalam kategori kompetisi, melainkan ditampilkan sebagai salah satu kategori film Panorama Musica bersama 11 film lainnya dari 7 negara. Festival Film ini merupakan ajang seni tahunan yang sudah berlangsung sejak 1999 dan mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Daerah Khusus Ibu Kota Buenos Aires.

Pemutaran film Opera Jawa, dengan subtitle bahasa Inggris dan Spanyol, ternyata mendapat sambutan hangat dari masyarakat pencinta film di Argentina. Tidak kurang dari 242 penonton memenuhi Bioskop Atlas hari pertama pemutaran. Tak dinyana, film yang menampilkan kekayaan budaya Jawa ini begitu menarik perhatian masyarakat setempat yang terkenal dengan tarian tango itu.

Dubes RI untuk Argentina, Sunten Z Manurung, dan Keluarga Besar KBRI serta masyarakat Indonesia yang ada di Buenos Aires yang turut hadir dalam pemutaran film itu menyaksikan sendiri antusiasme masyarakat setempat yang sampai antre panjang untuk masuk ke ruang pertunjukan. Ketika ditanyakan mengenai kesannya terhadap film tersebut, umumnya penonton menyatakan mereka sangat menyukainya. Sebagian dari mereka mengaku tidak begitu mengerti bahasa simbol yang banyak digunakan dalam film itu, kemungkinan karena mereka tidak cukup mengenal cerita Rama dan Sinta. Meskipun demikian, gabungan antara tarian, nyanyian, dan tampilan budaya yang sangat khas Indonesia membuat mereka terpesona. Bahkan, di akhir pertunjukan, penonton memberi tepuk tangan panjang atas film yang dinilai mampu menampilkan seni tradisi dalam kemasan kontemporer itu.

Film ini diputar ulang di berbagai bioskop hari Sabtu (14/4) dan pada penutupan festival, Minggu (15/4).

Melihat antusiasme peminat film setempat terhadap budaya Indonesia, pihak panitia dan Dinas Kesenian Pemerintah Daerah Buenos Aires mengharapkan agar di masa mendatang lebih banyak lagi film Indonesia ambil bagian dalam festival Argentina.

Kehadiran film yang menampilkan kekayaan budaya Indonesia ini diharapkan memberi pemahaman kepada masyarakat Argentina dan akan membantu peningkatan hubungan bilateral kedua negara yang pada tahun lalu merayakan 50 tahun hubungan diplomatiknya. (*/DI)


Sumber Kompas 16 April 2007

Friday, April 20, 2007

ISTANA SANS SOUCI



Pernah lihat film Evita yang menceritakan tokoh simpatik Evita Peron dari Argentina? Beliau wafat dalam usia muda, 33 tahun, namun dalam hidupnya sempat memperjuangkan hak-hak perempuan dan memperhatikan anak - anak agar mereka menjadi lebih maju. Tokoh Evita Peron di tayangkan dalam film dan salah satu tempat pengambilan film adalah Istana Sans Souci. Yang paling mudah dikenang adalah ketika penampilan Presiden Juan Domingo Peron menggendong isterinya yang sudah lemah, naik ke tangga menuju balkon.

Sekarang bisa dilihat dengan nyata karena tempat itu adalah bagian dalam dari Istana Sans Souci. Dengan ijin Keluarga Durini jika beruntung orang dapat melihat seluruh bagian dalamnya. Kesempatan itu diterima oleh keluarga besar KBRI ketika mereka mengundang dalam rangka perpisahan untuk Bapak Rahmadi Utomo dan keluarga yang sudah dikenalnya sejak tahun 1994 ketika salah satu anak, Maria Sol, dan menantunya, Miguel Nougues keduanya bertugas sebagai diplomat di Kedutaan Besar Argentina di Jakarta. Undangan hari Minggu tanggal 15 April 2007 itu terutama juga dalam rangka menyambut kedatangan Duta Besar R.I. , Bapak Sunten Z. Manurung beserta Ibu Herawaty. Bapak Duta Besar juga telah saling mengenal Maria Sol Durini de Nougues ketika mereka di Jakarta.

Putri dan menantu keluarga Durini adalah dua diplomat suami isteri Argentina, Maria Sol dan Miguel Nougues yang bertugas di Jakarta tahun 1994 yang menangani bidang politik dan bidang pensosbud. Dalam masa tahun 1994 – 1998 orangtuanya dan keluarga mereka berkunjung setiap tahun ke Indonesia dan diantaranya sudah ke pulau Jawa, Bali, Sumatera dan Sulawesi dan sekitarnya.

Karena mencintai Indonesia mereka membawa pulang berbagai koleksi cinderamata, perabotan serta “furniture” Indonesia. Kini, dalam kegiatan di Istana Sans Souci, kadang-kadang mereka memakai “alat musik gong” untuk membuka acara yang seringkali dilakukan disana. Memang Istana Sans Souci juga dapat disewa untuk kegiatan “hajatan” misalnya pernikahan, atau memamerkan suatu karya seni.

Di Buenos Aires hanya ada 3 Istana yang serupa. Pertama adalah “Museo de Arte Decorativo”, sebuah museum yang dimiliki oleh pemerintah Argentina yang menyimpan benda seni klasik terletak di Capital Federal Buenos Aires. Kedua, adalah Wisma Duta Besar Amerika Serikat di Argentina juga terletak di pusat kota Capital Federal. Sedangkan Istana Sans Souci terletak di pinggir kota (dekat Tigre dimana juga terletak Complejo/Rumah Minahasa) sehingga mempunyai cukup taman dan pepohonan yang sesuai dengan kemegahan istana tersebut.

Setelah Bapak Durini wafat maka isteri dan anak-anaknya membentuk sebuah Yayasan yang bergerak di bidang sosial dan ilmu pengetahuan. Seluruh anggota keluarga menjadi pengurus bersama teman dekat mereka. Peluncuran Yayasan Durini bulan Desember 2003 dengan pertunjukan Orkes Simfoni serta promosi minuman anggur, kebanggaan Argentina, dan yang berikutnya tahun 2006 dengan pameran alat minum tradisional “Mate” yang dikumpulkan dari Argentina hingga Checko dan Slovakia. Rencana berikutnya mereka berniat untuk menggelar koleksi benda seni budaya dan diantaranya bermaksud untuk bekerjasama dengan KBRI Buenos Aires serta Dharma Wanita Persatuan. Kita beruntung bahwa dari 190 negara di dunia ternyata Indonesia menjadi salah satu pilihan yang mendapat tempat yang khusus di Istana Sans Souci.


Wednesday, April 18, 2007

Paparan Umum Undang-Undang No.12 tahun 2006


Pada tgl 17 April 2007 tapatnya jam 14.00 di KBRI Buenos Aires diadakan sosialisasi Paparan Umum Undang-undang No. 12 tahun 2006.
Adapun penjelasan sosialisasi ini adalah tentang:




Bpk Duta besar Sunten Manurung
dan Bpk Alamsyah dari Bid Konsuler.


  • Masalah kewarganegaraan RI saat ini telah diatur oleh UU No. 12 tahun 2006 tentang Kewarganegaraan RI yg menggantikan UU No. 62 tahun 1958.
  • UU No. 12 tahun 2006 disamping mengatur tentang siapa yang dapat dikategorikan sebagai WNI, juga mengatur hal-hal yang dapat menyebabkan hilangnya kewarganegaraan RI.
  • Walaupun kewarganegaraan dapat dinyatakan hilang berdasarkan sebab2 tertentu yg dinyatakan oleh UU tersebut, pihak yg kehilangan kewarganegaraan RI masih memilki peluang untuk mendapatkan kembali.
  • Dalam keadaan khusus, UU ini dapat dikatakan sebagai UU yang juga mengatur tentang status kewarganegaraan anak yang lahir dari hasil perkawinan campuran. Disamping itu, berdasarkan keadaan tertentu pula anak2 yg lahir dari hasil perkawinan campuran memiliki peluang untuk memegang dua kewarganegaraan (dwi-kewarganegaraan) secara terbatas hingga yg bersangkutan berusia 18 tahun.
  • UU ini memiliki daya perlindungan dan kepastian hukum yg sangat baik bagi WNI. Mengingat UU ini cukup komprehensif, maka terdapat beberapa ketentuan pelaksana yang ditetapkan dalam bentuk peraturan pemerintah dan peraturan menteri hukum dan HAM.
  • UU ini sangat perlu disosialisasikan mengingat salah satu sebab diantaranya adalah terdapat begitu banyak WNI yang melakukan perkawinan campuran, serta WNI yang tinggal di luar wilayah RI dan perlu mengetahuinya.
Melalui sosiali yang dilakukan KBRI, diharapkan dapat diberikan gambaran umum bagi para subjek dimaksud yg berada di wilayah akreditasi KBRI Buenos Aires, serta sekaligus untuk menampung masukan-masukan yang mungkin dijumpai dalam prakteknya yg terkait dengan implementasi UU itu sendiri.

Monday, April 16, 2007

Istana kel Dr. Eduardo Antonio Durini








Kesempatan yang baik yang tentunya sayang untuk dilewatkan dalam memenuhi undangan dari keluarga besar Dr. Eduardo Antonio Durini, untuk melihat-lihat Istana yang megah yang di buat pada abad yang lalu.



Istana ini di bangun pada awal abad ke XX, dan di design oleh arsitek ternama yang bernama Rene Sargent. Sebuah hasil karya Neoklasik yang terinspirasi dari Istana Versalles.

Pada dekade ke 60 Istana ini Dibeli oleh Dr. Eduardo Antonio Durini bersama istrinya Maria Josefina Barra yang berfrofesi sebagai Arsitek, banyak kerusakan besar yang terjadi pada Istana ini, dan mulai diperbaiki dengan teliti, akhirnya memperoleh sebuah rekonstruksi yang indah dan beberapa akomodasi tambahan.

Dr. Durini juga memperbaiki Taman Frances dengan mengunakan air mancur yang sama, dimana suara percikan airnya dapat menenangkan hati.

Sans Souci kembali bersinar dengan kemegahan antiknya yang menjadi ciri khas elegan dan pesta impian Buenos Aires.



Foto: Ibu Herawaty bersama Maria Josefina Barra (istri Dr. Eduardo Antonio Durini)

Autisme: Gangguan Perkembangan Anak

Pendahuluan

Autisme merupakan suatu kata atau istilah yang mungkin untuk sebagian orang masih merupakan suatu tanda. Namun, bagi sebagian orang lagi, terutama para orangtua yang mempunyai anak penyandang autisme, kata itu sudah tidak asing lagi. Para profesional yang menggeluti bidang perkembangan anak telah lama mengadakan penelitian tentang autisme, psikopatologi, cara pencegahan, dan penanggulangannya, serta kelanjutan perkembangan anak dengan autisme di kemudian hari.

Autisme adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan jenis gangguan perkembangan pervasif pada anak yang mangakibatkan gangguan/keterlambatan pada bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi, dan interaksi sosial. Kondisi seperti itu tentu akan sangat mempengaruhi perkembangan anak, baik fisik maupun mental. Apabila tidak dilakukan intervensi secara dini dengan tatalaksana yang tepat, perkembangan yang optimal pada anak tersebut sulit diharapkan. Mereka akan semakin terisolir dari dunia luar dan hidup dalam dunianya sendiri dengan berbagai gangguan mental serta perilaku yang semakin mengganggu. Tentu semakin banyak pula dampak negatif yang akan terjadi.




Penderita Autis

Jogi Sinaga, siswa penderita autis bermain bersama pembimbing terapi autis di Check My Child Jakarta, Rabu, 19 November 2003. Metode Terapi yang digunakan adalah Sensority Integration. [TEMPO/ Rully Kesuma; 34D/007/2003; 20031120].

Apa yang disebut dengan autisme?

Saat ini, masalah autisme menimbulkan keprihatinan yang mendalam, terutama dari orangtuanya. Selain itu, rasa khawatir timbul pada ibu-ibu muda yang akan melahirkan. Autisme dapat terjadi pada siapa saja. Tidak ada perbedaan status sosial-ekonomi, pendidikan, golongan etnik, atau bangsa. Jumlah kasus yang dilaporkan cenderung meningkat dari tahun ke tahun.

Menurut Ginanjar (2001), autisme adalah gangguan perkembangan yang kompleks yang disebabkan oleh adanya kerusakan pada otak, sehingga mengakibatkan gangguan pada perkembangan komunikasi, perilaku, kemampuan sosialisasi, sensoris, dan belajar. Biasanya, gejala sudah mulai tampak pada anak berusia di bawah 3 tahun.

Sedangkan menurut Widyawati (1997), gangguan autistik atau autisme juga sering disebut autisme infantil. Gangguan ini merupakan salah satu dari kelompok gangguan perkembangan pervasif yang paling dikenal dan mempunyai ciri khas:

  • Adanya gangguan yang menetap pada interaksi sosial, komunikasi yang menyimpang,dan pola tingkah laku yang terbatas serta stereotip.
  • Fungsi yang abnormal ini biasanya telah muncul sebelum usia 3 tahun.
  • Lebih dari dua per tiga mempunyai fungsi di bawah rata-rata.

Siapa saja yang bisa menjadi penyandang autisme?

Menurut Rapin (1991), kejadian autisme di seluruh dunia diperkirakan sebesar 5--15 anak per 10.000 kelahiran (Catherine Maurice, 1996). Sedangkan menurut CDC (April 2000), kejadian autisme terdapat pada 1 di antara 250 anak usia 3--10 tahun di Brick Township, AS. Antara 1987--1998, jumlah anak autisme yang terdaftar di Regional Centre in California meningkat 273%. Saat ini diperkirakan terdapat 400.000 penderita autisme di AS. (http:www.svmagazine.com/2000/week26/features/story01.Html). Sedangkan di Indonesia sampai saat ini belum ada data resmi tentang jumlah kasus autisme.

Biasanya, autisme lebih sering ditemukan pada anak laki-laki dibanding anak perempuan, yaitu 4 : 1. Dikatakan bahwa anak laki-laki lebih mudah mendapat gangguan fungsi otak, namun anak perempuan penyandang autisme biasanya mempunyai gejala yang lebih berat. Selain itu, pada tes inteligensi hasilnya lebih rendah dibanding anak laki-laki.

Semula diduga penyandang autisme berasal dari keluarga dengan tingkat inteligensi dan sosio-ekonomi yang tinggi. Namun, dari penelitian terakhir, autisme ditemukan pada keluarga dengan berbagai tingkat sosio-ekonomi dan inteligensi. Hal itu mencerminkan telah semakin meluasnya pengetahuan tentang autisme di kalaangan profesional, terutama tenaga medis maupun masyarakat, dan semakin meningkatnya kemudahan untuk mencari pertolongan. Dengan demikian, gangguan ini menjadi lebih mudah dan lebih sering terdeteksi dibanding masa sebelumnya.

Faktor apa saja yang dapat menyebabkan autisme?

Menurut Budiman(Kompas, 26-9-2000), peningkatan kasus autisme belakangan ini, selain karena faktor kondisi dalam rahim seperti terkena virus toksoplamosis, sitomegalovirus, rubella atau herpes, dan faktor herediter, juga diduga karena pengaruh zat-zat beracun. Misalnya timah hitam (Pb) dari knalpot kendaraan, cerobong pabrik, cat tembok; kadmium (Cd) dari batu batere; serta air raksa (Hg) yang juga digunakan untuk menjinakkan kuman untuk imunisasi. Demikian pula pula antibiotik yang memusnahkan hampir semua kuman baik dan buruk di saluran pencernaan, sehingga jamur merajalela di usus. Logam-logam berat yang menumpuk di tubuh wanita dewasa masuk ke janin lewat demineralisasi tulang, dan tersalur ke bayi melalui ASI.

Stephen Edelson, MD (Majalah Nirmala, Juni 2001) yang melakukan penelitian pada 1998 terhadap 56 anak autisme, menemukan bahwa 95% dari mereka dalam darahnya ditemukan satu atau lebih racun bahan kimia pada tingkat yang cukup tinggi, melampaui batas maksimum rata-rata orang dewasa dalam keadaan sehat. Selain itu, 100% dari mereka mengandung satu atau lebih metal seperti air raksa (merkuri) dan timah dalam tingkat yang tinggi, yang merupakan racun yang dapat menyerang sistem otak.

Kecurigaan peran Hg pada kejadian autisme dikemukakan pula oleh Dr. Bernard Rimland dari Autism Research Institution San Diego, yang berbicara ke Senat AS tentang hal ini. Hasil analisis mineral rambut anak penderita autisme menunjukkan kadar Pb dan Hg yang tinggi. Sedang pendapat lain dikemukakan oleh Widyawati, yakni beberapa teori tentang penyebab autisme, antara lain:

Teori Psikososial

Kanner mempertimbangkan adanya pengaruh psikogenik sebagai penyebab autisme: orangtua yang emosional, kaku, dan obsessif, yang mengasuh anak mereka dalam suatu atmosfir yang secara emosional kurang hangat, bahkan dingin. Pendapat lain mengatakan adanya trauma pada anak yang disebabkan hostilitas yang tidak disadari dari ibu, yang sebenarnya tidak menghendaki anak ini. Ini mengakibatkan gejala penarikan diri pada anak dengan autisme. Menurut Bruno Bettelheim, perilaku orangtua dapat menimbulkan perasaan terancam pada anak-anak. Teori-teori ini pada 1950-1960 sempat membuat hubungan dokter dengan orangtua mengalami krisis dan menimbulkan perasaan bersalah serta bingung pada para orangtua yang telah cukup berat bebannya dengan mengasuh anak dengan autisme.

Teori Biologis

Teori ini menjadi berkembang karena beberapa fakta seperti berikut: adanya hubungan yang erat dengan retardasi mental (75—80%), perbandingan laki-laki : perempuan = 4 : 1, meningkatnya insidens gangguan kejang (25%), dan adanya beberapa kondisi medis serta genetik yang mempunyai hubungan dengan gangguan ini. Hingga sekarang ini diyakini bahwa gangguan autisme merupakan suatu sindrom perilaku yang dapat disebabkan oleh berbagai kondisi yang mempengaruhi sistem saraf pusat. Namun demikian, sampai saat ini belum diketahui dengan pasti letak abnormalitasnya. Hal ini diduga karena adanya disfungsi dari batang otak dan mesolimbik. Namun, dari penelitian terakhir ditemukan kemungkinan adanya keterlibatan dari serebelum. Berbagai kondisi tersebut antara lain:

Faktor genetik

Hasil penelitian terhadap keluarga dan anak kembar menunjukkan adanya faktor genetik yang berperan dalam perkembangan autisme. Pada anak kembar satu telur ditemukan sekitar 36-89%, sedang pada anak kembar dua telur 0%. Pada penelitian terhadap keluarga ditemukan 2,5—3% autisme pada saudara kandung, yang berarti 50--100 kali lebih tinggi dibanding pada populasi normal. Penelitian terbaru menemukan adanya peningkatan gangguan psikiatrik pada anggota keluarga dari penyandang autisme berupa peningkatan insidens gangguan afektif dan ansietas, juga peningkatan gangguan dalam fungsi sosial.

Selain itu, juga telah ditemukan adanya hubungan antara autisme dengan sindrom fragile-X, yaitu suatu keadaan abnormal dari kromosom X. Pada sindrom ini ditemukan kumpulan berbagai gejala, seperti retardasi mental dari yang ringan sampai yang berat, kesulitan belajar pada yang ringan, daya ingat jangka pendek yang buruk, fisik yang abnormal pada 80% laki-laki dewasa, clumsiness, serangan kejang, dan hiperefleksi. Sering tampak pula gangguan perilaku seperti hiperaktif, gangguan pemusatan perhatian, impulsif, dan ansietas. Gambaran autisme seperti tidak mau bertukar pandang, stereotip, pengulangan kata-kata, dan perhatian/minat yang terpusat pada suatu benda/objek sering ditemukan. Diduga terdapat 0-20% sindrom fragile-X pada autisme. Walau demikian, hubungan kedua kondisi tersebut masih diperdebatkan.

Faktor perinatal

Komplikasi pranatal, perinatal, dan neonatal yang meningkat juga ditemukan pada anak dengan autisme. Komplikasi yang paling sering dilaporkan adalah adanya pendarahan setelah trimester pertama dan ada kotoran janin pada cairan amnion, yang merupakan tanda bahaya dari janin (fetal distress). Penggunaan obat-obatan tertentu pada ibu yang sedang mengandung diduga ada hubungannya dengan timbulnya autisme. Adanya komplikasi waktu bersalin seperti terlambat menangis, gangguan pernapasan, anemia pada janin, juga diduga ada hubungannya dengan autisme.

Model neuroanatomi

Berbagai kondisi neuropatologi diduga mendorong timbulnya gangguan perilaku pada autisme. Ada beberapa daerah di otak anak penyandang autisme yang diduga mengalami disfungsi. Adanya kesamaan perilaku autistik dan perilaku abnormal pada orang dewasa yang diketahui mempunyai lesi di otak, dijadikan dasar dari berbagai teori penyebab autisme.

Hipotesis neurokemistri

Sejak ditemukan adanya kenaikan kadar serotonin di dalam darah pada sepertiga anak autistik pada 1961, fungsi neurotransmitter pada autisme menjadi fokus perhatiaan banyak peneliti. Dengan anggapan bila fungsi neurokemistri yang ditemukan merupakan dasar dari perilaku dan kognitif yang abnormal, tentu dengan terapi obat diharapkan disfungsi sistem neurotransmitter ini akan dapat

dikoreksi. Beberapa jenis neurotransmitter yang diduga mempunyai hubungan dengan autisme antara lain serotonin, dopamin, dan opioid endogen.

Teori Imunologi

Ditemukannya penurunan respons dari sistem imun pada beberapa anak autistik meningkatkan kemungkinan adanya dasar imunologis pada beberapa kasus autisme. Ditemukannya antibodi beberapa ibu terhadap antigen lekosit anak mereka yang autisme, memperkuat dugaan ini, karena ternyata antigen lekosit juga ditemukan pada sel-sel otak. Dengan demikian, antibodi ibu dapat secara langsung merusak jaringan saraf otak janin yang menjadi penyebab timbulnya autisme.

Infeksi Virus

Peningkatan frekuensi yang tinggi dari gangguan autisme pada anak-anak dengan congenital rubella, herpes simplex encephalitis, dan cytomegalovirus infection, juga pada anak-anak yang lahir selama musim semi dengan kemungkinan ibu mereka menderita influensa musim dingin saat mereka ada di dalam rahim, telah membuat para peneliti menduga infeksi virus ini merupakan salah satu penyebab autisme.

Bagaimana gambaran klinis dan cara mendiagnosis anak dengan autisme?

Ada 3 kelompok gejala yang harus diperhatikan untuk dapat mendiagnosis autisme, yaitu dalam interaksi sosial, dalam komunikasi verbal dan nonverbal serta bermain, dan dalam berbagai aktivitas serta minat. Namun demikian, anak-anak dengan autisme kemungkinan sangat berbeda satu dengan yang lain, tergantung pada derajat kemampuan intelektual serta bahasanya. Baik anak yang mutisme (membisu) dan suka menyendiri maupun anak yang mampu bertanya dengan tatabahasa yang benar tapi tidak sesuai dengan situasi yang ada, keduanya mempunyai diagnosis yang sama, yaitu autisme. Dapat pula terjadi salah diagnosis pada keadaan fungsi intelektual yang ekstrem (sangat tinggi atau sangat rendah). Hilangnya tingkah laku yang khas autisme bersamaan dengan meningkatnya usia, membuat diagnosis autisme yang dibuat setelah masa kanak-kanak lewat, menjadi kurang dapat dipercaya.

Pemeriksaan medis apa saja yang dilakukan pada anak autisme?

Pemeriksaan medis yang dilakukan pada anak autisme adalah pemeriksaan fisik, pemeriksaan neurologis, tes neuropsikologis, tes pendengaran, tes ketajaman penglihatan, MRI (Magnetic Resonance Imaging), EEG (Electro Encephalogram), pemeriksaan sitogenetik untuk abnormalitas kromosom, pemeriksaan darah, dan pemeriksaan air seni.

Kapan autisme biasanya mulai muncul?

  • Biasanya, gejala autisme mulai muncul sebelum usia 3 tahun dan ditandai kegagalan dalam perkembangan bahasa serta kegagalan dalam menjalin hubungan dengan orangtuanya. Ini merupakan alasan yang paling sering dari orangtua anak autisme untuk mengadakan kontak dengan tenaga medis.
  • Beberapa orangtua takut anaknya tuli karena tidak ada reaksi dari anak bila dipanggil.
  • Sangat jarang orangtua yang melaporkan anaknya mempunyai perkembangan sosial dan bahasa yang normal, tetapi yang sering justru kehilangan kemampuan berbahasa dan menarik diri dari interaksi sosial.
  • Orangtua sering mengingat adanya suatu peristiwa besar sebelum terjadi perubahan perilaku ini, seperti kelahiran adik, kematian nenek/kakek, atau suatu penyakit fisik, namun tidak jelas apakah ada hubungan antara timbulnya gejala autisme dengan semua peristiwa tersebut.
  • Sebagai bayi, anak autisme mungkin akan terbaring di boksnya atau asyik bermain sendiri selama berjam-jam tanpa menangis ataupun membutuhkan orangtuanya, sehingga pada awalnya orangtua mengira ia anak yang manis, yang mudah diatur, walau ada juga yang justru rewel dan sering menangis.

Hambatan kualitatif dalam interaksi sosial

Interaksi sosial pada anak autisme dibagi dalam 3 kelompok, yaitu:

  1. Menyendiri (aloof): banyak terlihat pada anak-anak yang menarik diri, acuh tak acuh, dan akan kesal bila diadakan pendekatan sosial serta menunjukkan perilaku serta perhatian yang terbatas (tidak hangat).
  2. Pasif: dapat menerima pendekatan sosial dan bermain dengan anak lain jika pola permainannya disesuaikan dengan dirinya.
  3. Aktif tapi aneh: secara spontan akan mendekati anak lain, namun interaksi ini sering kali tidak sesuai dan sering hanya sepihak.

Hambatan sosial pada anak autisme akan berubah sesuai dengan perkembangan usia. Biasanya, dengan bertambahnya usia maka hambatan tampak semakin berkurang.

  • Sejak tahun pertama, anak autisme mungkin telah menunjukkan adanya gangguan pada interaksi sosial yang timbal balik, seperti menolak untuk disayang/dipeluk, tidak menyambut ajakan ketika akan diangkat dengan mengangkat kedua lengannya, kurang dapat meniru pembicaraan atau gerakan badan, gagal menunjukkan suatu objek kepada orang lain, serta adanya gerakan pandangan mata yang abnormal.
  • Permainan yang bersifat timbal balik mungkin tidak akan terjadi.
  • Sebagian anak autisme tampak acuh tak acuh atau tidak bereaksi terhadap pendekatan orangtuanya, sebagian lainnya malahan merasa cemas bila berpisah dan melekat pada orangtuanya.
  • Anak autisme gagal dalam mengembangkan permainan bersama teman-temannya, mereka lebih suka bermain sendiri.
  • Keinginan untuk menyendiri yang sering tampak pada masa kanak akan makin menghilang dengan bertambahnya usia.
  • Walaupun mereka berminat untuk mengadakan hubungan dengan teman, sering kali terdapat hambatan karena ketidakmampuan mereka untuk memahami aturan-aturan yang berlaku dalam interaksi sosial. Kesadaran sosial yang kurang inilah yang mungkin menyebabkan mereka tidak mampu untuk memahami ekspresi wajah orang, ataupun untuk mengekspresikan perasaannya, baik dalam bentuk vokal maupun ekspresi wajah. Kondisi tersebut menyebabkan anak autisme tidak dapat berempati kepada orang lain yang merupakan suatu kebutuhan penting dalam interaksi sosial yang normal.

Hambatan kualitatif dalam komunikasi verbal/non-verbal dan dalam bermain

Keterlambatan dan abnormalitas dalam berbahasa serta berbicara merupakan keluhan yang sering diajukan para orangtua, sekitar 50% mengalami hal ini:

  • Bergumam yang biasanya muncul sebelum dapat mengucapkan kata-kata, mungkin tidak tampak pada anak autisme.
  • Sering mereka tidak memahami ucapan yang ditujukan pada mereka.
  • Biasanya mereka tidak menunjukkan atau memakai gerakan tubuh untuk menyampaikan keinginannya, tetapi dengan mengambil tangan orangtuanya untuk mengambil objek yang dimaksud.
  • Mereka mengalami kesukaran dalam memahami arti kata-kata serta kesukaran dalam menggunakan bahasa dalam konteks yang sesuai dan benar.
  • Bahwa satu kata mempunyai banyak arti mungkin sulit untuk dapat dimengerti oleh mereka.
  • Anak autisme sering mengulang kata-kata yang baru saja mereka dengar atau yang pernah mereka dengar sebelumnya tanpa maksud untuk berkomunikasi.
  • Bila bertanya sering menggunakan kata ganti orang dengan terbalik, seperti "saya" menjadi "kamu" dan menyebut diri sendiri sebagai "kamu".
  • Mereka sering berbicara pada diri sendiri dan mengulang potongan kata atau lagu dari iklan televisi dan mengucapkannya di muka orang lain dalam suasana yang tidak sesuai.
  • Penggunaan kata-kata yang aneh atau dalam arti kiasan, seperti seorang anak berkata "sembilan" setiap kali ia melihat kereta api.
  • Anak-anak ini juga mengalami kesukaran dalam berkomunikasi walaupun mereka dapat berbicara dengan baik, karena tidak tahu kapan giliran mereka berbicara, memilih topik pembicaraan, atau melihat kepada lawan bicaranya.
  • Mereka akan terus mengulang-ulang pertanyaan biarpun mereka telah mengetahui jawabannya atau memperpanjang pembicaraan tentang topik yang mereka sukai tanpa mempedulikan lawan bicaranya.
  • Bicaranya sering dikatakan monoton, kaku, dan menjemukan.
  • Mereka juga sukar mengatur volume suaranya, tadak tahu kapan mesti merendahkan volume suaranya, misal di restoran atau sedang membicarakan hal-hal yang bersifat pribadi.
  • Kesukaran dalam mengekspresikan perasaan atau emosinya melalui nada suara.
  • Komunikasi non-verbal juga mengalami gangguan. Mereka sering tidak menggunakan gerakan tubuh dalam berkomunikasi untuk mengekspresikan perasaannya atau untuk merabarasakan perasaan orang lain, misalnya menggelengkan kepala, melambaikan tangan, mengangkat alis, dan lain sebagainya.

Aktivitas dan minat yang terbatas

  • Abnormalitas dalam bermain terlihat pada anak autisme, seperti stereotip, diulang-ulang, dan tidak kreatif. Beberapa anak tidak menggunakan mainannya dengan sesuai, juga kemampuannya untuk menggantikan suatu benda dengan benda lain yang sejenis sering tidak sesuai.
  • Anak autisme menolak adanya perubahan lingkungan dan rutinitas baru. Contohnya seorang anak autisme akan mengalami kesukaran bila jalan yang biasa ia tempuh ke sekolah diubah atau piring yang biasa ia pakai untuk makan diganti. Mainan baru mungkin akan ditolak berminggu-minggu sampai kemudian baru bisa ia terima. Mereka kadang juga memaksakan rutinitas pada orang lain, contohnya seorang anak laki-laki akan menangis bila waktu naik tangga sang ibu tidak menggunakan kaki kanannya terlebih dahulu.
  • Mereka juga sering memaksa orangtua untuk mengulang suatu kata atau potongan kata.
  • Dalam hal minat: terbatas, sering aneh, dan diulang-ulang. Misalnya, mereka sering membuang waktu berjam-jam hanya untuk memainkan saklar lampu, memutar-mutar botol, atau mengingat-ingat rute kereta api.
  • Mereka mungkin sulit dipisahkan dari suatu benda yang tidak lazim dan menolak meninggalkan rumah tanpa benda tersebut. Misalnya, seorang anak laki-laki yang selalu membawa penghisap debu ke mana pun ia pergi.
  • Stereotip tampak pada hampir semua anak autisme, termasuk melompat turun naik, memainkan jari-jari tangannya di depan mata, menggoyang-goyang tubuhnya, atau menyeringai.
  • Mereka juga menyukai objek yang berputar, seperti mengamati putaran kipas angin atau mesin cuci.

Gangguan kognitif

Hampir 75-80% anak autisme mengalami retardasi mental dengan derajat rata-rata sedang. Menarik untuk diketahui bahwa beberapa anak autisme menunjukkan kemampuan memecahkan masalah yang luar biasa, seperti mempunyai daya ingat yang sangat baik dan kemampuan membaca yang di atas batas penampilan intelektualnya.

Sebanyak 50% dari idiot savants, yakni orang dengan retardasi mental yang menunjukkan kemampuan luar biasa, seperti menghitung kalender, memainkan satu lagu hanya dari sekali mendengar, mengingat nomor-nomor telepon yang ia baca dari buku telepon, adalah seorang penyandang autisme.

Gangguan perilaku motorik

Kebanyakan anak autisme menunjukkan adanya stereotip, seperti bertepuk-tepuk tangan dan menggoyang-goyangkan tubuh. Hiperaktif biasa terjadi terutama pada anak prasekolah. Namun, sebaliknya, dapat terjadi hipoaktif. Beberapa anak juga menunjukkan gangguan pemusatan perhatian dan impulsivitas. Juga didapatkan adanya koordinasi motorik yang terganggu, tiptoe walking, clumsiness, kesulitan belajar mengikat tali sepatu, menyikat gigi, memotong makanan, dan mengancingkan baju.

Respons abnormal terhadap perangsangan indera

Beberapa anak menunjukkan hipersensitivitas terhadap suara (hiperakusis) dan menutup telinganya bila mendengar suara yang keras seperti suara petasan, gonggongan anjing, atau sirine polisi. Anak yang lain mungkin justru lebih tertarik dengan suara jam tangan atau remasan kertas. Sinar yang terang, termasuk sinar lampu sorot di ruang praktik dokter gigi, mungkin membuatnya tegang walaupun pada beberapa anak malah menyukai sinar. Mereka mungkin sangat sensitif terhadap sentuhan, memakai baju yang terbuat dari serat yang kasar, seperti wol, atau baju dengan label yang masih menempel, atau berganti baju dari lengan pendek menjadi lengan panjang. Semua itu dapat membuat mereka tempertantrums.

Di lain pihak, ada juga anak yang tidak peka terhadap rasa sakit dan tidak menangis saat mengalami luka yang parah. Anak mungkin tertarik pada rangsangan indera tertentu seperti objek yang berputar.

Gangguan tidur dan makan

Gangguan tidur berupa terbaliknya pola tidur, terbangun tengah malam. Gangguan makan berupa keengganan terhadap makanan tertentu karena tidak menyukai tekstur atau baunya, menuntut hanya makan jenis makanan yang terbatas, menolak mencoba makanan baru, dapat sangat menyulitkan para orangtua.

Gangguan afek dan mood

Beberapa anak menunjukkan perubahan mood yang tiba-tiba, mungkin menangis atau tertawa tanpa alasan yang jelas. Sering tampak tertawa sendiri, dan beberapa anak tampaknya mudah menjadi emosional. Rasa takut yang sangat kadang-kadang muncul terhadap objek yang sebetulnya tidak menakutkan. Cemas perpisahan yang berat, juga depresi berat mungkin ditemukan pada anak autisme.

Perilaku yang membahayakan diri sendiri dan agresivitas melawan orang lain

Ada kemungkinan mereka menggigit tangan atau jari sendiri sampai berdarah, membentur-benturkan kepala, mencubit, menarik rambut sendiri, atau memukul diri sendiri. Tempertantrums, ledakan agresivitas tanpa pemicu, dan kurang perasaan terhadap bahaya, dapat terjadi pada anak autisme.

Gangguan kejang

Terdapat kejang epilepsi pada sekitar 10--25% anak autisme. Ada korelasi yang tinggi antara serangan kejang dengan beratnya retardasi mental dan derajat disfungsi susunan syaraf pusat.

Kondisi fisik yang khas

Dilaporkan bahwa anak autisme usia 2-7 tahun, tubuhnya lebih dibanding anak seusianya dan saudaranya.

Diagnosis Banding

Gangguan autisme musti dibedakan dengan:

  • Retardasi mental: ketrampilan sosial dan komunikasi verbal atau non-verbal pada anak retardasi mental sesuai dengan usia mental mereka. Tes inteligensi biasanya menunjukkan suatu penurunan yang menyeluruh dari berbagai tes. Berbeda dengan anak autisme yang hasil tesnya tidak menunjukkan hasil yang rata-rata sama. Kebanyakan anak dengan taraf retardasi yang berat dan usia mental yang sangat rendah menunjukkan tanda-tanda autisme yang khas, seperti gangguan dalam interaksi sosial, stereotip, dan buruknya kemampuan berkomunikasi.
  • Skizofrenia: kebanyakan anak dengan skizofrenia secara umum tampak normal pada saat bayi sampai usia 2-3 tahun, dan baru kemudian muncul halusinasi, gejala yang tidak terdapat pada autisme. Biasanya anak dengan skizofrenia tidak retardasi mental, sedangkan pada autisme sekitar 75-80% adalah retardasi mental.
  • Gangguan perkembangan berbahasa: kondisi ini menunjukkan adanya gangguan pemahaman dan dalam mengekspresikan pembicaraan, namun komunikasi non-verbalnya baik, dengan memakai gerakan tubuh dan ekspresi wajah. Juga tidak ditemukan adanya stereotip dan gangguan yang berat dalam interaksi sosial.
  • Gangguan penglihatan dan pendengaran: mereka yang buta dan tuli tidak akan bereaksi terhadap rangsang lingkungan sampai gangguannya terdeteksi dan memakai alat bantu khusus untuk mengoreksi kelainannya.
  • Gangguan kelekatan yang rekatif: suatu gangguan dalam hubungan sosial pada bayi dan anak kecil. Keadaan itu dikarenakan pengasuhan yang buruk sehingga dengan terapi dan pengasuhan yang baik serta sesuai, kondisi itu dapat kembali normal.

Bagaimana perjalanan penyakit dan prognosis autisme?

Walaupun kebanyakan anak autisme menunjukkan perbaikan dalam hubungan sosial dan kemampuan berbahasa seiring dengan meningkatnya usia, gangguan autisme tetap meninggalkan ketidakmampuan yang menetap. Mayoritas dari mereka tidak dapat hidup mandiri dan membutuhkan perawatan di institusi ataupun membutuhkan supervisi terus. Hasil penelitian menemukan bahwa:

  • Dua per tiga dari anak autisme mempunyai prognosis yang buruk: tidak dapat mandiri.
  • Seperempat dari anak autisme mempunyai prognosis yang sedang: terdapat kemajuan di bidang sosial dan pendidikan, walaupun ada problem perilaku.
  • Sepersepuluh dari anak-anak autisme mempunyai prognosis yang baik: mempunyai kehidupan sosial yang normal atau hampir normal dan berfungsi dengan baik di sekolah ataupun di tempat kerja.

Walaupun demikian, sangatlah jarang penyandang autisme dapat berfungsi seperti orang dewasa, yakni mempunyai teman dan menikah. Beberapa peneliti mencatat adanya peningkatan masalah perilaku pada remaja, termasuk gangguang obsesive dan kumpulsive yang berat dan apatis. Juga dilaporkan munculnya gangguan depresi pada saat remaja. Gejala depresi muncul pada remaja ketika kesadaran yang menyakitkan muncul bahwa mereka tidak mampu membina hubungan dengan teman walaupun mereka menginginkannya.

Bagaimana penatalaksanaan gangguan ini?

Tujuan terapi pada gangguan autisme adalah untuk mengurangi masalah perilaku serta meningkatkan kemampuan belajar dan perkembangannya, terutama dalam penggunaan bahasa. Tujuan ini dapat tercapai dengan baik melalui suatu program terapi yang menyeluruh dan bersifat individual, di mana pendidikan khusus dan terapi wicara merupakan komponen yang penting.

Suatu tim kerja terpadu yang terdiri dari tenaga pendidik, tenaga medis (psikiater, dokter anak), psikolog, ahli terapi wicara, pekerja sosial, dan perawat, sangat diperlukan agar dapat mendeteksi dini, serta memberi penanganan yang sesuai dan tepat waktu. Semakin dini terdeteksi dan mendapat penanganan yang tepat, akan dapat tercapai hasil yang optimal.

Pendekatan edukatif

Anak dengan autisme seharusnya mendapat pendidikan khusus. Rencana pendidikan sebaiknya dibuat secara individual sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak. Juga perlu diperhitungkan tidak hanya kelemahan anak ini, namun juga kekuatan yang mereka punyai, agar guru dapat mempertimbangkannya dalam memberikan keterampilan baru. Yang terbaik bagi mereka adalah suatu bentuk pelatihan yang sangat terstruktur, sehingga kecil kesempatan bagi anak untuk melepaskan diri dari teman-temannya, dan guru akan segera bertindak bila melihat anak melakukan aktivitas sendiri. Latihan yang terstruktur ini juga mempermudah anak untuk dapat memperkirakan kemungkinan apa yang akan terjadi di sekitarnya. Idealnya, anak ikut serta pelatihan ini, dengan harapan ia dapat memperoleh kemampuan untuk bekerja sendiri. Pendekatan ini tentunya membutuhkan suatu kelas yang perbandingan murid dan gurunya rendah.

Dalam pelajaran bahasa, anak lebih mudah mengembangkan kemampuannya dalam berkomunikasi bila fokus pembicaraan mengenai hal-hal yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Pada beberapa anak dapat dicoba dengan melatih bahasa isyarat. Demikian pula dalam melatih ketrampilan sosial, hendaknya juga mengenai hal-hal yang menyangkut kehidupan sehari-hari. Kekurangan dalam interaksi soaial, hubungan timbal-balik, memahami aturan-aturan sosial, memusatkan perhatian bila berada dalam suatu kelompok, dan kemampuan mengerjakan cara-cara yang diajarkan oleh pembimbingnya, merupakan masalah-masalah yang kemungkinan dapat berhasil dicapai dalam program untuk remaja dan dewasa muda.

Terapi perilaku

Dengan modifikasi perilaku yang spesifik diharapkan dapat membantu anak autisme dalam mempelajari perilaku yang diharapkan dan membuang perilaku yang bermasalah.

Dalam suatu penelitian dikatakan, dengan terapi yang intensif selama 1-2 tahun, anak yang masih muda ini dapat berhasil meningkatkan IQ dan fungsi adaptasinya lebih tinggi dibanding kelompok anak yang tidak memperoleh terapi yang intensif. Pada akhir dari terapi, sekitar 42% dapat masuk ke sekolah umum. Agresivitas yang cukup banyak ditemukan pada anak autisme, memerlukan penangan yang spesifik, yakni:

Anak:

  1. Ajari keterampilan berkomunikasi (non-verbal).
  2. Tingkatkan ketrampilan sosial (dengan peragaan).

Medis

  1. Konsultasi endokrinologi: untuk mengatasi agresivitas seksual.
  2. Konnsultasi neurologi: untuk menyingkirkan adanya kejang lobus temporalis dan sindrom hipotalamik.

Lingkungan

Lingkungan harus aman, teratur, dan responsif.

Sekolah:

  • Periksa prestasi akademik yang diharapkan.
  • Catat reaksi dari teman-teman.
  • Coba kurangi tuntutan dan perubahan.
  • Konsultasi dengan para ahli.

Rumah:

  • Bagaimana penerimaan keluarga terhadap anak (orangtua dan saudara-saudaranya).
  • Catat tuntutan-tuntutan terhadap anak dan coba kurangi setiap perubahan rutinitas.
  • Pembatasan ruang adalah penting.
  • Konsultasi dengan para ahli.

Bangkitkan rasa percaya diri pada anak:

  1. Bantu anak untuk melatih kontrol diri: stop-lihat-dengar
  2. Praktikkan latihan relaksasi: napas dalam atau musik.
  3. Ajari mendeteksi bahaya.

Kembangkan pelbagai keterampilan sebagai pengganti agresivitas, seperti keterampilan sosial, berkomunikasi, kerjasama, menggunakan waktu senggang, dan berekreasi.

Kurangi perubahan rutinitas yang mendadak. Hendaknya keluarga mempunyai rencana terhadap apa yang diharap dari anak di rumah:

  1. Rutinitas sehari-hari pada pagi hari, sepulang sekolah, dan sore hari.
  2. Gunakan gambar-gambar untuk anak non-verbal dan mempunyai fungsi yang lebih rendah.

Bagi anak dengan agresivitas yang berat:

  1. Pakai cara istirahat (time out) untuk meredakan dan dapat mengontrol diri lebih baik.
  2. Batasi reaksi emosional untuk menjadi agresif dengan berkata `tidak’ atau ‘stop’.
  3. Gunakan alat bantu fisik untuk mengontrol anak
  4. Koreksi terhadap akibat negatif yang dibuat anak
  5. Pengendalian fisik pada agresivitas yang berat dan hilangnya kontrol diri.
  6. Pastikan anak mempunyai rutinitas sehari-hari yang teratur.
  7. Semua teknik di atas harus digunakan dengan hati-hati dan di bawah supervisi profesional yang telah terlatih.

Teknik pencegahan timbulnya agresivitas:

  1. Bina hubungan yang kuat dengan anak
  2. Pastikan anak mempunyai rutinitas yang teratur, terutama di rumah
  3. Tinjau kembali bermacam tuntutan terhadap anak
  4. Bagaimana mengatur perubahan rutinitas (sebelum/sesudah hari libur)
  5. Jelaskan dan siapkan anak terhadap perubahan
  6. Kurangi suara dan keributan di sekitarnya
  7. Buat rencana untuk ‘hari-hari buruk’ dengan memilih suatu tempat yang tenang agar anak lebih tenang.
  8. Pergunakan relaksasi dan kontrol diri sebagai cara untuk memberi lebih banyak ketrampilan pada anak
  9. Pertemuan rutin dengan anggota tim agar mereka menyadari tanda-tanda agresivitas
  10. Supervisi dan ahli jiwa yang terlatih dalam terapi perilaku kognitif

Psikoterapi

Dengan adanya pengetahuan tentang faktor biologi pada autisme, psikodinamik psikoterapi yang dilakukan pada anak yang masih kecil, termasuk terapi bermain yang tidak terstruktur, adalah tidak sesuai lagi. Psikoterapi individual, baik dengan atau tanpa obat, mungkin lebih sesuai pada mereka yang telah mempunyai fungsi lebih baik, saat usia mereka meningkat, mungkin timbul perasaan cemas atau depresi ketika mereka menyadari kelainan dan kesukaran dalam membina hubungan dengan orang lain.

Terapi Obat

Pada sekelompok anak autisme dengan gejala-gejala seperti tempertrantums, agresivitas, melukai diri sendiri, hiperaktivitas, dan stereotip, pemberian obat-obatan yang sesuai dapat merupakan salah satu bagian dari program terapi komprehensif. Pemeriksaan yang lengkap dari kondisi fisik dan laboratorium harus dilakukan sebelum memulai pemberian obat-obatan. Periode istirahat dari obat, setiap enam bulan dianjurkan untuk menilai lagi apakah obat masih diperlukan dalam terapi.

Obat-obatan yang digunakan antara lain:

  1. Antipsikotik: untuk memblok reseptor dopamin
  2. Fenfluramine: untuk menurunkan serotonin
  3. Naltrexone: untuk antagonis opioida
  4. Simpatomimetik: untuk menurunkan hiperaktivitas
  5. Clomipramine: untuk anti depresan
  6. Clonidine: untuk menurunkan aktivitas noradrenergik

Sumber Tempo
FERIZAL MASRA
Mahasiswa Program Pasca Sarjana, Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat, FKMUI, Jakarta

Wednesday, April 11, 2007

Kue Putu Ayu



Bahan :
250 gr tepung terigu
225 gr gula pasir
4 btr telur
130 ml santan masak, dinginkan
1 sdt Ovalet
1 sdm pewarna hijau
200 gr kelapa muda parut beri garam
1 sdt garam

Cara Membuat :
  • Kocok telur dan gula pasir hingga mengental, tambahkan ovalet, kocok hingga mengembang dan putih.
  • Tambahkan santan sedikit demi sedikit bergantian dengan tepung terigu, aduk hingga rata. tambahkan pewarna hijau, aduk rata.
  • Siapkan cetakan putu, oles minyak dan beri dasarnya kelapa muda, tuang adonan hingga penuh. lakukan hingga adonan habis.
  • Panaskan dandang, masukan cetakan, kukus selama 35 menit, angkat


untuk 40 buah

Tip : campur kelapa parut dengan sedikit tepung kanji agar kelapa melekat pada kue dan tidak mudah ancur.

Perpisahan Ibu Nindarsari Utomo (Rike)

Pertemuan yang selalu biasa kita adakan setiap sebulan sekali untuk saat ini jatuh tgl 11 April 2007.

Disamping itu tentunya acara inti dari pertemuan ini yaitu Memperpisahkan Ny. Nindarsari Utomo (Rike) dan keluarga yang dalam waktu dekat ini akan meninggalkan kota Buenos Aires dan kembali ke Tanah Air Indonesia.

Sulit rasanya untuk bisa mengungapkan dan mengatakan kata berpisah, seperti dalam sambutannya Ibu Rike mengatakan tidak terasa 4 tahun telah dilalui seperti baru seminggu, dan tentunya banyak sekali kenangan-kenangan dan Ilmu yang sudah banyak di peroleh terutama di Organisasi Dharma Wanita, sebelumnya Ibu Rike adalah seorang Diplomat Karier yang harus rela melepaskan jabatan sementara untuk mendampingi suami yang bekerja di Bidang Politik KBRI Buenos Aires.

Empat tahun tentunya bukan waktu yang sedikit, tapi selama waktu itu kita gunakan dengan baik dan bermanfaat tentunya tidak terasa, banyak sekali sumbangan pikiran dan tenaga yang sudah Ibu Rike berikan untuk DWP Buenos Aires dan Hanya Tuhan yang bisa membalasnya dan kami yang merasa di dekatnya tentunya akan merasa kehilangan sekali.


Sebait kata kenangan Untuk ibu Rike


Ada pertemuan pasti ada perpisahan
Ada awal pasti pula ada akhir

Saat saat seperti ini, biarlah waktu
Memisahkan kita sementara

Namun….
Peliharalah dan siramlah terus…
Agar hati kita selalu dekat

Saling memaafkan dan Doa adalah
Bekal persahabatan kita….

“Selamat Berpisah dan selamat jalan”
Sampai jumpa dilain kesempatan

Tape Ketan hijau


Tape Ketan warna hijau

Tape_3 Bahan:
1 kg Beras Ketan putih
1 sdm ragi tape, di haluskan
200 ml air panas
pewarna hijau/pandan pasta






Cara Membuat:

  • Rendam Ketan selama 30 menit, lalu cuci sampe bersih.
  • Ketan di kukus sebentar kurang lebih 20 menit, trus di angkat dan masukan ke wadah/panci.
  • Campur air panas dengan pewarna hijau, lalu tuang sedikit sedikit ke ketannya sehingga tercampur rata dan ketan menjadi warna hijau.
  • Kukus kembali ketan yang sudah di beri warna, sampai matang.
  • Tuang ketan di tempat yang datar/tampah, biar cepat dingin, taburkan ragi yang sudah halus di atas ketan dan aduk rata.
  • Simpan ketan di wadah (taperware) dan tutup rapat , jangan di buka selama 2 hari.